Aktivasi Otak Tengah | Franchise Otak Tengah
aktivasi otak Analisa Bakat Melalui Sidik Jari
Aktivasi Otak Gratis Jadwal Aktivasi Otak
otak tengah midbrain activation indonesia stimulasi otak otak tengah indonesia aktivasi otak tengah mid brain activation indonesia aktivasi otak otak tengah otak tengah mesencephalon activation midbrain activationmesencephalon activation indonesia aktivasi otak mesencephalon activation indonesia midbrain activation midbrain activation
[ MENU ]
 FAQ


[ ARTIKEL ]

  • penyebab kesulitan belajar pada anak

  • riset membuktikan belajar musik meningkatkan kemampuan otak anak

  • ini jawaban mengapa kemampuan belajar tiap orang berbeda

  • usia ideal bagi anak untuk masuk sekolah dasar

  • tips melatih indera bayi

  • baca novel bisa meningkatkan fungsi otak





  • [ STAT ]





     

    Kajian Ilmiah Analisa Sidik Jari

    Kategori : Umum
     
     
     
    Banyak pihak yang bertanya, apakah analisa sidik jari dan kaitannya dengan otak ada riset ilmiahnya? tentu saja ada dan kita sebenarnya bisa mencari sendiri melalui google dengan tehnik pencarian yang lebih detail.

    Namun yang lebih penting lagi adalah silahkan dibuktikan sendiri akurasi analisa sidik jari anda dari repot/laporan yang kami berikan.

    Berikut adalah rangkuman riset-riset yang telah dilakukan untuk meneliti korelasi antara sidik jari dan otak terutama dalam kaitannya dengan kecerdasan.

    1. Hasil Riset independen pakar psikometrik dan personaliti Prof.Dr.M Zin Nordin (pakar psikometrik), DR. Mohd.Suhaimi Mohammad (pakar personaliti) dan DR Wan Shahrazad Wan Sulaiman menyimpulkan bahwa dalam pengujian inventori menunjukan reliabilitas yang BAIK dan TINGGI dengan koefisien alfa 0,849 dan 2. Didapati korelasi yang signifikan antara hasil test dengan alat test lain (simulasi aktivitas permainan tundra) menggunakan uji statistik khi kuadrat.


    2. Penelitian oleh ilmuwan China, Liu Hongzhen, bisa dibaca di http://en.cnki.com.cn/Article_en/CJFDTOTAL-ZGTY199902008.htm


    3. Menurut Dr Syailendra WS. SpKJ, Pola sidik jari terbentuk sejak janin dalam kandungan usia 13 minggu – 19 minggu. Pola sidik jari juga bersifat herediter (diturunkan) dari orang tuanya. Pola sidik jari dipengaruhi oleh DNA seseorang. Pada th 1986, telah dilakukan penelitian oleh Dr. Rita Levi Montalcini dan Dr Stanley Cohen, tentang adanya korelasi antara Nerve Growth Factor (NGF) dan Epidermal Growth Factor (EGF). Pada penelitian ini ditemukan korelasi antara pola garis epidermal kulit, dengan sistem pertumbuhan saraf yang menunjukkan terdapatnya hubungan pola sidik jari dan otak.

    Menurut para ahli, sistem saraf pusat itu terhubungkan dengan bagian-bagian dari otak. Dan otak merupakan pusat semua aktifitas fisik dan mental seseorang. Setiap bagian bagian otak, pada area pre frontal, frontal, occipital, parietal dan temporal mempunyai fungsi-fungsi yang berbeda dan kekuatan (dominansi) yg berbeda pula. Sehingga logis bila pola-pola sidik jari sesorang itu, bisa memanifestasikan kerja dari bagian-bagian otak tersebut.

    Namun tentu analisa sidik jari hanya terbatas mengetahui potensi, bakat, kepribadian dasarnya sedangkan pengaruh lingkungan dan pendidikan juga akan menentukan karakter seseorang. Paling tidak dengan mengetahui bakatnya, kita dapat mengarahkan secara lebih baik agar maksimal dalam pencapaian tujuan. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki bakat seni tentu akan lebih baik jika diarahkan ke seni daripada diarahkan menjadi ilmuwan karena tentunya dari segi biaya, usaha akan lebih efektif dan efisien.


    4. Zhai Guijun, dalam makalahnya Report on Study of Multivariate Intelligence Measurement through Dermatoglyphic Identification, Beijing Oriental KeAo Human Intelligence Potential Research Institute Zhengzhou DongFangZhou Intelligence Measurement & Consultation Research Center Wuhan University Oriental Intelligence Research & Test Center, yang dipublikasi pada 15 april 2006.

    Berikut kutipan pernyataan yang dibuat oleh Zhai Guijun dalam makalahnya :

    I started to study the correlation of dermatoglyph (fingerprints) and human intelligence in

    1988. Through 19-year continuous efforts, I have established a preliminary systematic method for intelligence measurement through Dermatoglyphic identification. I have successively made study, measurement and sampling of over 40 thousand people in 25 regions of China, and gradually improved the practice and theory of Multivariate Intelligence Measurement through Dermatoglyphic Identification, as well as made it highly reliable and effective.

    The method of Multivariate Intelligence Measurement through Dermatoglyphic Identification passed the Science and Technology Achievement Appraisal (YKYCZ9212) by Henan Academy of Sciences on October 4, 1992,  and also passed the demonstration jointly presided by the Genetics Society of China, the Working Committee for Popular Science Activities under China Psychological Society, and the Working Committee for Health Care of Women and Children under China International Exchange and Promotive Association for Medical and Health Care (CPAM) on April 15, 2006.

    Zhai Guijun mengemukakan bahwa dengan memanfaatkan sidik jari dalam penelitian ini hasil yang ia peroleh relatif konsisten dengan angka reliabilitas 0.798, 0.725, 0.840, dan 0.381 dengan melakukan pengukuran pada anak-anak sekolah dasar. Validitasnya adalah 0.995.

    Hasil yang diperoleh dari penelitian ini :

    The study on multivariate intelligence measurement through dermatoglyphic identification (finger print) makes physiological and physical measurement of human intelligence possible.It is most likely an easily workable and accurate intelligence measurement before people can make precise determination of human intelligence from gene level.

    It is possible to become the latest generation of intelligence measurement methods in succession to "Assessment Scale". Multivariate intelligence measurement through dermatoglyphic identification is capable to accurately identify the intelligence difference and personality difference of individuals. Therefore it may be used by schools or institutions in making appropriate selection of different talents. Dermatoglyph is the external existence of human genes and brains, and may also be considered as a representation of DNA sequence.

    Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan penelitian yang dilakukan Zhai Guijun, finger print analysis dapat dijadikan sebagai salah satu metode untuk mengukur potensi yang dimiliki oleh individu.


    5. Ilmuwan Rusia meneliti sidik jari dan kaitannya dengan memilih profesi/pekerjaan, bisa dibaca http://strf.ru/science.aspx?CatalogId=222&d_no=21114


    6. Publikasi ilmiah kaitan sidik jari dan otak sehingga berpengaruh pada perilaku. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10097430


    7. Menurut Sunday Times, ilmuwan beberapa dari Barcelona University mempelajari sidik jari ratusan siswa dan menyimpulkan bahwa sidik jari mencerminkan kecerdasan. Secara intelektual orang cacat biasanya memiliki sidik jari yang secara substansial berbeda dengan orang normal.

    Ilmuwan menemukan bahwa di antara ratusan siswa belajar, anak-anak cacat intelektual memiliki sidik jari yang memiliki lengkungan lebih dan pola melingkar. Selain itu, cetakan sawit mereka memiliki pola yang lebih normal daripada rekan-rekan normal mereka. Para ilmuwan berkomentar bahwa bubungan Simian ditemukan di telapak yang paling berhubungan dengan kecerdasan seseorang.

    8. Thesis mengenai kaitan sidik jari dengan kelainan perilaku dari Prof.Thomas Fogle dari biology department at Saint’s Mary’s College, Notre Dame, Indiana, the United States berjudul Using Dermato­glyphics From Down Syndrome And Class Populations To Study The Genetics Of A Complex Trait.


    Berikut ini sejarah perkembangan ilmu dermatoglyphics :

    1684, Dr. Nehemiah Grew (1641-1712) presented Finger Prints, Palms and Soles An Introduction To Dermatoglyphics to the Royal Society

    1685, Dr.Bidloo published an anatomical atlas, Anatomia Humani Corporis, with illustrations showing the human figure both in living attitudes and as dissected cadavers

    1686, Dr. Marcello Malphigi (1628-1694) noted in his treatise; ridges, spirals and loops in fingerprints

    1788, J.C.Mayer was the first to write out basic tenets of fingerprint analysis and theorized that fingerprints were unique

    1823, Dr. Jan Purkinje classified the papillary lines on the fingertips into nine types: arch, tented arch, ulna loop, radial loop, peacock’s eye/compound, spiral whorl, elliptical whorl, circular whorl, and double loop/composite.

    1823, Joannes Evangelista Purkinji found that the patterns on one’s finger tips and the ridges and lines on one’s prints begin to form at around the thirteenth week in the womb.

    1832, Dr. Charles Bell (1774-1842) was one of the first physicians to combine the scientific study of neuro-anatomy with clinical practice. He published The Hand: Its Mechanism and Vital Endowments as Evincing Design.

    1893, Dr. Francis Galton published his book, "Fingerprints", establishing the individuality and permanence of fingerprints. The book included the first classification system for fingerprints: Arch, Loop and Whorl.

    1897,Harris Hawthorne Wilder was the first American to study Dermatoglyphics. He invented the Main Line Index, studied thenar hypothenar eminencies, zones II, III, IV.

    1926,Dr. Harold Cummins & Dr. Charles Midlo coined the term "Dermatoglyphics". They showed that the hand contained significant Dermatoglyphics configurations that would assist the identification of mongolism in the new-born child.

    1936,Dr. Harold Cummins & Dr. Charles Midlo also researched the embryo-genesis of skin ridge patterns and established that the fingerprint patterns actually develop in the womb and are fully formed by the fourth foetal month.

    1944, Dr Julius Spier Psycho-Analytic Chirologist published "The Hands of Children" he made several significant discoveries especially in the area of psycho-sexual development and the diagnosis of imbalances and problems in this area from the patterns of the hands.

    1957, Dr.Walker used the dermal configurations in the diagnosis of mongolism

    1968, Sarah Holt, whose own work 'The Genetics of Dermal Ridges' published in 1968, summarizes her research in of dermatoglyphics patterns of both the fingers and the palm in various peoples, both normal and congenitally afflicted.

    1969, John J. Mulvihill, MD and David W. Smith, MD published The Genesis of Dermatoglyphics that provides the most up to date version of how fingerprints form.

    1970, USSR,Former Soviet Union. Using Dermatoglyphics in selecting the contestant for Olympics.

    1976, Schaumann and Alter's 'Dermatoglyphics in Medical Disorders' published.Significant investigations have also been carried out into the dermatoglyphics indicators of congenital heart disease, leukaemia, cancer, rubella embryopathy, Alzheimer's disease, schizophrenia etc.Dermatoglyphics research being directed into genetic research and the diagnosis of chromosomal defects.

    1980, China carry out researching work of human potential, intelligence and talents in dermatoglyphics and human genome perspective.

    1985, Dr. Chen Yi Mou Phd. of Havard University research Dermatoglyphics based on Multiple Intelligence theory of Dr. Howard Gardner. First apply dermatoglyphics to educational fields and brain physiology.

    2000, Dr Stowens, Chief of Pathology at St Luke's hospital in New York, claims to be able to diagnose schizophrenia and leukaemia with up to a 90% accuracy. In Germany, Dr Alexander Rodewald reports he can pinpoint many congenital abnormalities with a 90% accuracy.

    2004, IBMBS- International Behavioral & Medical Biometrics Society. Over 7000 report and thesis published. Nowadays the U.S., Japan or China, Taiwan apply dermatoglyphics to educational fields, expecting to improve teaching qualities and raising learning efficiency by knowing various learning styles.
     
    Artikel Lain :
    6 buah segar yang bisa meningkatkan kualitas otak

    proses kreativitas tak selamanya di otak kanan

    video game kekerasan bikin otak susah kendalikan emosi

    riset membuktikan belajar musik meningkatkan kemampuan otak anak

    dominasi otak serta kaitannya dengan memegang telepon

     
    Dibaca : 4563 kali

     

    OTAKTENGAHINDONESIA.COM
    Baping Training Centre
    Jl.Haji Baping No.56, Susukan Ciracas, Jakarta Timur, Indonesia 13750
    HP : 0818-9510-70, 0857-7969-8247, 0812-1234-6758
    Fax. (021) 877-87912, Email : Info@otaktengahindonesia.com